PEMBUATAN GARAM KOMPLEKS DAN GARAM RANGKAP
Betania
Yonanda Sidauruk
Fakultas
Sains dan Teknologi
Universitas
Jambi
PENDAHULUAN
Aluminiun adalah logam
berwarna putih keperakan, yang merupakan logam yang ringan tidak beracun.
Aluminium juga merupakan unsur ketiga terbanyak yang terdapat di dalam kulit
bumi. Alumunium digunakan pada mobil, truk, sepeda serta per- lengkapan
memasak. Aluminium dapat bereaksi dengan gas klorin membentuk aluminium klorida
(PAC). Senyawa ini banyak dipakai untuk menjernihkan air (Fardhila, 2019).
Alum kalium merupakan
jenis alum yang paling penting. Alum kalium merupakan senyawa yang tidak
berwama dan mempunyai bentuk kristal oktahedral atau kubus ketika kalium sulfat
dan aluminium sulfat keduanya dilarutkan dan didinginkan. Larutan alum kalium
tersebut bersifat asam. Alum kalium sangat larut dalam air panas. Ketika
kristalin alum kalium dipanaskan terjadi pemisahan secara kimia, dan sebagian
garam yang terdehidrasi terlarut dalam air Alum kalium memiliki titik leleh
900°C. Tipe lain dari alum adalah aluminium sulfat yang mencakupi alum natrium,
alum amonium dan alum perak. Alum digunakan untuk pembuatan bahan tekstil yang
tahan api, obat dan lain sebagainya. Tawas dapat dikenal sebagai koagulan di
dalam pengolahan air limbah yang memiliki fungsi sangat efektif untuk
mengendapkan partikel yang melayang baik dalam bentuk koloid maupun suspensi.
Selain digunakan sebagai penjemih air, tawas juga dapat digunakan sebagai zat
aditif untuk antiperspirant (deodorant). Tawas tersebut di pasaran dapat dibedakan
menjadi 2 jenis berdasarkan bentuknya, yaitu tawas kusam dan tawas bening (Purnawan
dan Ramadhani, 2014).
Garam rangkap memiliki struktur
molekul lebih panjang dibandingkan dengan struktur garam kompleks. Larutan
garam rangkap merupakan campuran berupa ion sederhana yang akan mengion bila
dilarutkan lagi. Jelas berbeda dengan garam kompleks yang menghasilkan ion
kompleks apabila dalam bentuk larutan.
Salah satu contoh garam rangkap yaitu FeSO4(NH4)SO4.6H2O
dan K2SO4Al2(SO4)3.24H2O.
Garam ini dalam larutannya merupakan campuran rupa-rupa ion sederhana yang akan
mengion jika dilarutkan lagi. Jadi, jelas berbeda dengan garam kompleks yang
menghasilkan ion-ion kompleks dalam larutan. Semua garam-garam tersebut
terbentuk melalui pencampuran (larutan pekat panas dari komponen sulfat), lalu
didinginkan. Kristal-kristal alumi, yang mengendap akibat kelarutannya rendah
dalam air dingin, dapat dimurnikan lewat kristalisasi karena kelarutannya
meningkat secara mencolok dengan meningkatnya suhu. Kristal-kristalnya biasanya
berbentuk octahedral (Day & Underwood, 1999).
Kristal CuSO4.5H2O
merupakan salah satu bahan yang banyak dibutuhkan di industri. Pemanfaatan dari
CuSO4.5H2O ini sangat luas. Diantaranya yaitu sebagai
fungisida yang merupakan pestisida yang secara spesifik membunuh atau
menghambat cendawan akibat penyakit, reagen analisa kimia, sintesis senyawa
organik, pelapisan anti fokling pada kapal, sebagai kabel tembaga,
elektromagnet, papan sirkuit, solder bebas timbal, dan magneton dalam oven
microwave. Kristal CuSO4.5H2O berupa padatan kristal biru
ini dapat dibuat dengan mereaksikan tembaga dengan asam sulfat dan asam nitrat
yang kemudian dipanaskan dan hingga terbentuk kristal. Tembaga banyak digunakan
pada berbagai barang elektronik, misalnya kabel, kumparan, dan lain-lain. Logam
tembaga pada barang-barang tersebut mengandung kadar tembaga yang cukup tinggi
(Fitrony et al., 2013).
METODE
A. Alat dan Bahan
1.
Alat
Alat yang
digunakan yaitu tabung reaksi besar dan kecil, gelas ukur 50ml, gelas ukur
10ml, gelas beaker 100ml, gelas arloji, pompa vakum,pemanas, gelas kimia 100ml,
batang pengaduk, corong buchner, cawan penguap, bunsen, kaki tiga dan kasa.
2.
Bahan
Bahan yang
digunakan yaitu Al2(SO4)3.18H2O, kristal
kupri sulfat pentahidrat, kristal ammonium sulfat, etil alkohol, K2SO4,
ammonium 15m, ammonium 6m, dan kristal kupri sulfat anhidrat.
B.
Prosedur Kerja
a)
Pembuatan Tawas
Dilarutkan 33,4gr Al2(SO4).18H2O
dalam 50 ml air dan dilarutkan 8,7gr K2SO4 dengan 50 ml
air lalu kedua larutan dicampurkan, diaduk, dan dipanaskan hingga melarut
sempurna. Kemudian dipindahkan ke cawan penguap dan didinginkan hingga
terbentuk kristal. Setelah itu kristal yang didapat dicuci dengan sedikit air
dan disaring menggunakan kertas saring lalu dikeringkan. Kemudian kristal
disimpan dalam botol gelap dan dihitung persen rendemen yang didapatkan.
b)
Pembuatan Garam Rangkap Kupri Ammonium Sulfat
Dilarutkan
4,98 gr CuSO4.5H2O dan 2,64gram (NH3)2
SO4 dalam 10 ml air dalam gelas beker 100 ml dan dipanaskan secara
perlahan hingga garam larut sempurna. Lalu didinginkan tiba tiba dengan
memasukkannya dalam waterbath dan didiamkan selama 1 jam hingga diperoleh
kristal. Didekantir agar larutan dan kristal terpisah. Kemudian kertas saring
ditimbang dan disaring menggunakan pompa vakum, kristal yang didapat
dikeringkan, ditimbang dan diletakkan pada kaca arloji. Dihitug persen
rendemennya.
c)
Pembuatan Garam Kompleks dan Tetraamin copper (II)
Sulfat Monohidrat
8 ml
ammonium 15 M diencerkan dengan 5 ml air dalam gelas beker 100 ml dan
ditabambahkan 4,98 gr bubuk CuSO4.5H2O lalu diaduk hingga
homogen. Ditambahkan pada campuran 8 etil alkohol secara perlahan lalu ditutup
rapat menggunakan plastik wrap kemudian didiamkan selama 1 jam dalam ice
waterbath dan diaduk perlahan untuk mengendapkan secara sempurna setelah itu
didekantir kristal dengan filtratnya. Kristal yang didapatkan kemudian disaring
menggunkan kertas saring dan dicuci dengan etil alkohol, disaring menggunakan
pompa vakum dan dicuci sekali lagi dengan etil alkohol kemudian dikeringkan,
ditimbang dan diletakkan dalam kaca arloji. Dihitung persen rendemennya.
d)
Perbandingan Beberapa sifat Garam Tunggal, Rangkap dan
Kompleks
a.
1 gr kristal kupri sulfat anhidrat dimasukkan tabung
reaksi dan ditambahkan 2-3 ml akuades lalu dicatat perubahan warna yang terjadi
kemudian ditambahkan 5 ml NH2OH 6M tetes demi tetes dan diamati hasil
pengamatan
b.
Dimasukkan tawas dan kupri amonium sulfat yang
didapatkan pada tabung reaksi yang berbeda dan masing-masing tabung reaksi
ditambahkan 5 ml air lalu dibanding warna kedua larutan kemudian diencerkan
dengan 20 ml air dan catat perubahan warna
c.
Garam kupri amonium sulfat dan tetraamin coopper (II)
sulfat dimasukkan masing-masing pada tabung reaksi berbeda kemudian dipanaskan
lalu diamati perubahan warna dan gas yang terbentuk.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Data Hasil Praktikum
a.
Pembuatan Tawas
|
Perlakuan |
Hasil Pengamatan |
|
- Ditimbang 33,4 gr Al2(SO4)3.16H2O
dan dilarutkan dengan 50 ml quadss -
Ditimbang 8,7 gr K2SO4
dan dilarutkan dengan 50 ml aquades -
Dicampurkan larutan Al2(SO4)3.16H2O
dan larutan K2SO4 dalam cawan penguap -
Didinginkan pada suhu kamar selama 1
jam -
Ditimbang kertas saring - Disaring dengan pompa vakum dan dicuci dengan aquades -
Dijaga suhu tidak melebihi 80°C -
Ditimbang berat total -
Berat kristal yang didapatkan -
Dihitung rendemen (%) |
-
Larutan berwarna putih keruh -
Larutan tak berwarnah jernih (homogen) -
Larutan berwarna putih keruh -
Larutan berwarna putih keruh dan ada
endapan kristal berwarna putih -
Berat kertas saring = 1,253 gr -
Terdapat kristal putih mengkilap
seperti garam -
Berat total = 20,628 gr -
Berat kristal = berat total – berat kertas
saring
= 20,628 gr – 1,253 gr
= 19,375 gr -
% rendemen = 40,91% |
b.
Pembuatan Garam Rangkap Kupri Ammonium Sulfat
|
Perlakuan |
Hasil pengamatan |
|
-
Ditimbang 4,98 gr CuSO4.5H2O dan
dilarutkan dengan 10 ml aquades -
Ditimabang 2,64 gr (NH3)2SO4 dan
dilarutkan dengan 10 ml aquades -
Dicampurkan larutan CuSO4.5H2O dan
larutan (NH3)2SO4 -
Dipanasakan larutan -
Ditutup dan didiamkan selema 1 jam di
dalam ice bath -
Didekantir -
Ditimbang kertas saring -
Disaring menggunakan pompa vakum -
Dikeringkan -
Ditimbang berat total -
Berat kristal yang diperoleh -
Dihitung rendemen (%) |
- Larutan berwarna biru jernih - Latutan tidak berwarna - Larutan berwarna biru jernih - Larutan homogen - Larutan berwarna biru jernih dan ada endapan kristal
berwarna biru pucat - Kertas saring = 1,208 gr - Terdapat endapan kristal berwarna bitu pucat - Berat total = 4,881 gr - Berat kristal = berat total – berat kertas
saring
= 4,881 gr – 1,208 gr
= 3,673 gr - % rendemen = 46,1084% |
c.
Pembuatan Garam Kompleks dan Tetraamin copper (II)
Sulfat Monohidrat
|
Perlakuan |
Hasil Pengamatan |
|
- Ditimbang 4,98 gr CuSO4. 5H2O dan
dilarutkan dengan 10 ml aquads dalam gelas beker -
Dicampurkan larutan CuSO4. 5H2O
dengan larutan ammonium 25% 8 ml dan diaduk hingga homogen -
Ditambahkan 8 ml etanol secara
perlahan dan diaduk -
Ditutup denganplastik warp dan
didiamkan selama 1 jam dalam ice bath -
Didekantir filtrat dan endapan - Ditmbang kertas saring -
Disaring menggunakan pompa vakum -
Ditimbang kristal dan kertas saring -
Berat garam (Cu(NH3)(SO4).
5H2O -
Rendeman |
-
Larutan biru jernih -
Larutan berubah warna biru gelap -
-
Terbentuk 2 fasa, endapan dibagian
atas, larutan biru gelap dibagian bawah -
Larutan berwarna biru pucat dan ada
endapan biru tua pekat -
Larutan warna biru pekat -
Kertas saring 1,22 gr -
Terdapat endapan biru tua pekat -
Berat total 6,427 gr -
5,207 gr -
105,26% |
d.
Perbandingan Beberapa sifat Garam Tunggal, Rangkap dan
Kompleks
|
Perlakuan |
Hasil
pengamatan |
|
-
Ditimbang 1 gr kristal kupri sulfat
anhidrat dimasukan dalam tabung reaksi dan ditambahkan 3 ml aquades -
Ditambahkan 5 ml NH4OH 3M
tetes demi tetes a.
Hasil percobaaan A dan B dimasukkan
masing-masing sesudip + dilarutkan masing-masing dengan 5 ml aquades
+ditambahkan 20 ml akuades masing-masing larutan A dan B b.
Hasil percobaan B dan C dimasukkan
dalam tabung reaksi + dipanaskan + diamati gas yang terbentuk |
- Larutan biru - Terbentuk 3 fasa, bagian bawah biru biru transparan,
bagian tengah biru pucat dan terbentuk endapan -
Larutan A berwarna putih keruh dan
tetap keruh -
Larutan B berwarna biru jernih dan tetap
jernih -
Kristal berubah warna -
Garam B hijau keputihan -
Garam C warna hitam -
Garam B terbentuk gas putih berbau
amoniak |
B. Pembahasan
Garam merupakan senyawa yang umumnya merupakan hasil
reaksi asam dan basa yang dapat bersifat asam, basa, ataupun netral. Diantara
jenis-jenis garam tersebut, ada juga jenis garam berdasarkan pada keadaan
ketika dilarutkan dengan sebuah pelarut. Garam jenis tersebut disebut dengan
garam kompleks dan garam rangkap. Dalam larutan, garam rangkap merupakan
campuran berbagai macam ion sederhana yang akan mengion jika dilarutkan lagi. Garam
rangkap terbentuk apabila dua garam mengkristal bersama-sama dengan perbandingan
molekul tertentu. Garam-garam itu memiliki struktur tersendiri dan tidak harus
sama dengan struktur garam komponennya. Garam kompleks merupakan suatu garam
yang terbentuk dari suatu anion atau kation kompleks, atau dikenal sebagai
senyawa koordinasi/ Garam rangkap dalam larutan akan terionisasi menjadi
ion-ion komponennya. Namun bila suatu garam kompleks dilarutkan, maka akan
terion menjadi ion penyusun dan ion kompleksnya.
Pada percobaan
yang pertama dilakukan pembuatan tawas. Tawas atau alum adalah suatu senyawa
aluminium sulfat dengan rumus kimia [Al2(SO4).13H2O].
Pembuatan tawas bisa dilakukan dengan melarutkan material yang mengandung Al2O3
dalam larutan asam sulfat. Tawas merupakan senyawa yang tidak berwarna dan
mempunyai bentuk kristal oktahedral atau kubus. Tawas larut dalam air tetapi
tidak larut dalam alkohol dalam udara bebas tawas bersifat stabil. Senyawa
tawas bersifat sedikit asam tetapi dapat mengalami perubahan dalam suasana basa
karena amfoterik aluminium. Pada percobaan kali ini dilakukan pembuatan garam
tawas dengan menggunakan (Al2S04)3. 18H20
dengan K2S04 yang kemudian masing masing senyawa
dilarutkan dalam akuades. Al2(SO4)3.16H2O
saat dilarutkan dengan akuades membentuk larutan berwarna putih susu dan larut
dalam akuades. Al2(SO4)3.16H2O
ketika bereaksi dengan akuades membentuk suatu ion komples [AlCH2O6]3+
hal ini disebabkan oleh kerapatan muatan aluminium (Al3+)
menyebabkan di dalam larutannya mampu menarik molekul air dan membentuk ion
kompleks tersebut. Dalam larutan, ion [AlCH2O6]3+
berada dalam kesetimbangan karena mengalami hidrolisis dan bersifat asam.
Sedangkan pada K2S04 juga memperoleh hasil yang sama
dimana ketika di reaksikan dengan akuades memperoleh larutan yang larut
sempurna dan berwarna putih susu. Kemudian kedua larutan tersebut dicampurkan
dalam cawan penguap sehingga diperoleh larutan berwarna putih keruh dan larutan
larut. setelah dilakukan pendinginan
diperoleh kristal berwarna putih sebanyak 19,375 gr dan diperoleh % rendemen
sebesar 40,91 %. Reaksi yang terjadi adalah:
![]()
Pembentukan
tawas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu proses pendinginan,
konsentrasi asam dari pereaksi asam sulfat dan pengeringan, konsentrasi basa
dari kalium hidroksida. Tawas kalium aluminium sulfat sering digunakan sebagai
penjernih air sungai yang kotor. Selain itu juga digunakan sebagai bahan
penolak api pada tekstil, sebagai bahan aditif pada makanan, digunakan dalam
pengolahan limbah cair, perusahaan air minum, industri obat-obata dan lainnya.

Percobaan kedua yaitu Pembuatan
Garam Rangkap Kupri Ammonium Sulfat. Pada percobaan pembuatan garam rangkap,
dengan senyawa yang digunakan yaitu CuSO4 dan (NH3)2(SO4)
dimana senyawa ini masing-masing dilarutkan ke dalam akuades. Ketika CuSO4
dilarutkan dalam akuades diperoleh kelarutan dan memperoleh warna biru jernih.
Kemudian (NH3)2(SO4) dilarutkan dalam akuades
juga terjadi kelarutan dan diperoleh larutan tak berwarna. Lalu kedua larutan
dicampurkan dan dihasilkan larutan berwarna biru jernih. Dalam percobaan ini,
CuSO4.5H2O bertindak sebagai penyedia atom pusat
sedangkan (NH4)2(SO4) bertindak sebagai
penyedia ligan. Fungsi penambahan akuades bertindak untuk mengompleks Cu2+.
Selanjutnya kedua larutan dicampurkan. Pencampuran kedua larutan membuat ligan
H2O tersebut digantikan dengan NH4 dari Kristal (NH4)2(SO4).
Hal tersebut dapat terjadi karena berdasarkan deret spektrokimia. Ligan NH4
sebagai ligan kuat dapat mendesak ligan H2O yang lebih lemah,
sehingga dihasilkan larutan berwarna biru. Campuran larutan kemudian dipanaskan
untuk mempercepat reaksi, sehingga larutan melarut sempurna. Selanjutnya
dilakukan pendinginan dengan memasukkannya dalam baskom yang berisi es batu
(waterbath) dimana proses pendinginan bertujuan untuk mempercepat reaksi
pembentukkan atau pengendapan garam. Selain itu, agar garam rangkap yang
terbentuk semakin solid (padat). Proses pendinginan dilakukan selama kurang
lebih 60 menit hingga diperoleh Kristal yang banyak. Adapun reaksi yang terjadi
selama pembuatan garam rangkap sebagai berikut:
![]()
![]()

Kristal
yang terbentuk kemudian disaring untuk memisahkannya dari larutannya, kristal
kemudian dikeringkan untuk menghilangkan sisa air yang terkandung pada Kristal.
Kristal CuSO4(NH4)2(SO4).6H2O
yang diperoleh berwarna biru pudar dengan berat sebesar 3,673 gr dan persen
rendemen sebesar 46,1084%. Berat garam rangkap yang diperoleh lebih kecil dari
berat garam secara teori. Hal ini dapat terjadi akibat beberapa factor seperti
kurang lamanya waktu pendinginan sehingga garam rangkap kupri ammonium sulfat
belum seluruhnya mengkristal.

Percobaan selanjutnya yang
ketiga adalah Pembuatan Garam Kompleks dan Tetraamin copper (II) Sulfat
Monohidrat. Percobaan ini adalah pembuatan garam kompleks tetrammin copper (I)
sulfat monohidrat Cu(NH3)SO4.H2O dengan
melarutkan 4,98 gram CuSO4.5H2O kedalam 10 mL akuades
sehingga diperoleh larutan berwarna biru tua kemudian ditambah larutan ammonia
berfungsi sebagai penyedia ligan sedangkan kristal CuSO4.5H2O
berfungsi sebagai penyedia atom pusat.
Akuades berfungsi sebagai pengkompleks Cu yang kemudian ligan H2O
ini diganti oleh NH; karena NH sebagai ligan kuat yang dapat mendesak ligan
netral H2O sehingga warnanya berubah dari biru tua menjadi biru tua.
Pelarut yang ditambahkan adalah etanol 8 mL dengan cara setetes demi tetes agar
alkohol tidak bercampur dengan larutan melainkan dapat menutupi larutan. Hal
tersebut dikarenakan jika tercampur etanol dapat bereaksi dengan atom pusat Cu
membentuk Cu(OH)2. Fungsi penambahan etanol yaitu mencegah
terjadinya penguapan pada ammonia, karena apabila ammonia menguap, maka ligan
akan habis sebab ammonia merupakan penyédia ligan. Proses pendinginan dilakukan
dilemari pendingin agar proses pembentukan kristal lebih cepat, kemudian
disaring menggunakan pompa vakum untuk memisahkan kristal dari larutannya.
Kemudian kristal dikeringkan dan ditimbang diperoleh berat kristal 5,207 gram.
Hasil reaksi dari proses tersebut terbentuk garam kompleks tetramamin copper
(11) sulfat monohidrat, Cu(NH3)4SO4.5H2O
dengan kristal berwarna biru tua. Hasil analisis data diperoleh rendemen
sebesar 105,26 %.
Adapun reaksi yang terjadi saat pembuatan
kompleks yaitu sebagai berikut:
![]()

Percobaan yang terakhir adalah Perbandingan Beberapa
sifat Garam Tunggal, Rangkap dan Kompleks yang bertujuan untuk membandingkan
beberapa sifat garam rangkap, garam tunggal dan garam kompleks. Pada percobaan
ini dibagi tiga perlakuan. Untuk yang pertama, garam tunggal kupri sulfat
anhidrat 1 gr direaksikan dengan akuades sehingga diperoleh kristal terlarut
dan larutan berwarna biru. Kemudian ditambahkan ammonium hidroksida terbentuk 3
fasa diantaranya lapisan atas berwarna biru pekat, lapisan tengah berwarna biru
muda dan lapisan bawah berwarna putih transparan dan terbentuk endapan. Hal ini
terjadi karena adanya pertukaran ligan. Kupri sulfat anhidrat mmerupakan atom
pusat dengan H2O merupakan ligan. Perubahan warna ini diakibatkan
adanya pertukaran ligan dari air menjadi ammonia.
Pada
perlakuan kedua yaitu mereaksikan garam tawas dengan akuades sehingga diperoleh
larutan putih
keruh dan terlarut lebih lama. Hal ini karena alum kalium
(tawas) akan terurai menjadi ion-ion penyusunnya. Dan garam rangkap direaksikan
dengan akuades larutan menjadi warna biru pucat dan terlarut dengan cepat. Hal
ini karena garam rangkap terurai menjadi ion-ion komponennya. Hasil
yang diperoleh dari tawas dan garam rangkap yang telah direaksikan dengan air
direaksikan kembali dengan air (H2O). Dimana pada tawas tetap
menghasilkan larutan tak berwarna, sedangkan pada garam rangkap warna biru pucat. Pada perlakuan ketiga dilakukan dengan
pemanasan untuk hasil dari garam rangkap dan garam kompleks. Ketika garam
rangkap kupri dipanaskan terbentuk gas berwarna putih disertai dengan bau yang
menyengat dan endapan yang awalnya berwarna hijau tua dan ketika dipanaskan
secara terus menerus menjadi hitam, sedangkan saat garam kompleks dipanaskan
menghasilkan gas amonia (NH3). Yang mana juga gas amonia adalah gas
berwarna putih tapi mengeluarkan bau menyengat. Adapun reaksi yang terjadi pada
percobaan ini yang mana melepaskan uap H2O dan menghasilkan gas
ammonia atau dapat juga disebut gas NH3.

KESIMPULAN
1.
Tawas pada percobaan ini dibuat dengan mereaksikan larutan garam Al2(SO4)3.16H2O
dengan larutan garam K2SO4 menghasilkan endapan putih
yang berupa kristal tawas AlK2(SO4)2.12H2O.
2.
Pembuatan garam rangkap dilakukan dengan mereaksikan larutan garam CuSO4.5H2O
dengan larutan (NH4)2SO4 sehingga menghasilkan
kristal berwarna biru yang berupa kristal garam rangkap CuSO4(NH4)2SO4.6H2O.
Garam rangkap jika direaksikan dalam air akan membentuk atau terurai menjadi
ion-ion penyusunnya, dan jika dipanaskan akan melepaskan uap H2O
yang tidak berbau. Sedangkan pembuatan garam kompleks dilakukan dengan
mereaksikan garam CuSO4.5H2O dengan NH3
sehingga menghasilkan kristal berwarna biru tua yang merupakan kristal garam
kompleks [Cu(NH3)4]SO4.H2O. Garam
kompleks jika dipanaskan akan menghasilkan bau amonia.
DAFTAR
PUSTAKA
Day
& Underwood. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Kelima. Jakarta:
Erlangga.
Faradhilah,
N. 2019. Memahami unsur, senyawa, dan campuran. Jawa Tengah: Alprin.
Fitrony.,
F. Rizqy., Q. Lailatul., dan Mahfud. 2013. “Pembuatan Kristal Tembaga Sulfat
Pentahidrat (CuSO4.5H2O) dari Tembaga Bekas Kumparan. Jurnal
Teknik Pomits. Vol.2(1): 8-15.
Purnawan,
I. dan R.B. Ramadhani. 2014. “Pengaruh Konsentrasi KOH pada pembuatan tawas
dari kaleng aluminium bekas”. Jurnal Teknologi. Vol 6(2):109-117.
Komentar
Posting Komentar